JAKARTA โ Kekayaan biodiversitas Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menghasilkan inovasi obat baru. Namun, pemanfaatannya memerlukan dukungan riset berbasis bukti serta kolaborasi internasional agar pengetahuan pengobatan tradisional dapat berkembang menjadi produk farmasi yang aman, efektif, dan berdaya saing global. Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan 3rd International Summer Course Pharmacy Universitas Pancasila (ISCP-UP) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila (FFUP), Senin (20/7). Program internasional yang berlangsung hingga 27 Juli itu mengangkat tema “Bridging Traditional Wisdom and Advanced Biotechnology: The Future of Global Pharmacy.”
Wakil Rektor III Universitas Pancasila, Dr. Muhammad Rizky Aldila, S.H., M.K., mengatakan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempertemukan kekayaan sumber daya alam dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Kita hidup pada era ketika layanan kesehatan modern harus terus berkembang tanpa melupakan pengetahuan yang telah diwariskan selama berabad-abad. Alam menyimpan potensi besar sebagai sumber penemuan obat, sementara bioteknologi memungkinkan potensi tersebut divalidasi, distandardisasi, dan dikembangkan secara aman untuk masyarakat global,” ujarnya saat membuka kegiatan yang mewakili Rektor Universitas Pancasila.
Menurut Rizky, kolaborasi internasional menjadi salah satu kunci mempercepat inovasi di bidang farmasi. Melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman riset, dan jejaring akademik lintas negara, perguruan tinggi dapat menghasilkan solusi kesehatan yang lebih relevan terhadap tantangan global.
Ia juga mengapresiasi konsistensi Fakultas Farmasi Universitas Pancasila dalam membangun jejaring akademik internasional, termasuk dengan Department of Pharmacy, Trinity University of Asia, Filipina.
Senada dengan itu, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Prof. Dr. apt. Dian Ratih Laksmitawati, M.Biomed, mengatakan pengembangan obat pada masa depan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi modern, tetapi juga perlu memanfaatkan pengetahuan tradisional yang telah terbukti digunakan masyarakat selama bertahun-tahun.
“Mengintegrasikan pengetahuan tradisional dengan kemajuan bioteknologi akan mempercepat lahirnya inovasi farmasi yang lebih efektif, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan kesehatan global,” katanya.
Menurut Prof. Dian, International Summer Course menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa, peneliti, akademisi, dan praktisi industri untuk saling bertukar perspektif mengenai pengembangan produk alam sebagai sumber penemuan obat baru.
Pada penyelenggaraan tahun ini, FFUP menerima 13 peserta internasional dari Department of Pharmacy, Trinity University of Asia, Filipina, serta 29 mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, sehingga jumlah peserta mencapai 42 orang. Kehadiran delegasi dari Filipina merupakan kelanjutan kerja sama akademik kedua institusi yang telah berlangsung sejak 2024.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kuliah ilmiah yang menghadirkan pakar dari kalangan industri dan akademisi. Prof. Raymond R. Tjandrawinata, Ph.D., M.Sc., M.B.A., FRSPH, dari Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences memaparkan perkembangan penemuan obat translasional berbasis produk alam Indonesia melalui materi “Dari Keanekaragaman Hayati menuju Pengobatan Berbasis Bukti: Pengembangan Penemuan Obat Translasional Berbasis Produk Alam Indonesia.”
Selanjutnya, dr. Sandy Qlintang, M.Biomed., dari Bifarma Adiluhung membahas potensi ekstrak tumbuhan dalam terapi sel. Sementara itu, sesi daring menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Deny Susanti yang mengulas integrasi pengetahuan tradisional dan bioteknologi dalam inovasi farmasi modern, serta Prof. Dr. M. Taher bin Bakhtiar dari International Islamic University Malaysia (IIUM) yang memaparkan pemanfaatan bioteknologi farmasi dalam penemuan obat berbasis produk alam. Seluruh sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel antara narasumber dan peserta.
Selain mengikuti perkuliahan, peserta akan mengunjungi sejumlah institusi yang bergerak di bidang riset, layanan kesehatan, dan industri farmasi, di antaranya Prodia Jakarta, PT Kalbio Global Medika, SCCR Indonesia, PT Sido Muncul, serta UPF Yankestrad RSUP Dr. Sardjito. Kunjungan tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai penerapan hasil riset dalam pengembangan produk farmasi dan pelayanan kesehatan di Indonesia. Ketua pelaksana kegiatan, apt. M. Iqbal Julian Rianda Pradana Putra, S.Farm., M.Sc., Ph.D., mengatakan ISCP-UP dirancang sebagai wadah pertukaran ilmu pengetahuan sekaligus memperluas jejaring internasional di bidang farmasi. Melalui kolaborasi akademik yang berkelanjutan, program ini diharapkan dapat mendorong lahirnya penelitian bersama dan inovasi yang memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia untuk mendukung pengembangan kesehatan global. [RH]