JAKARTA โ Universitas Pancasila (UP) terus memperkuat komitmennya dalam hilirisasi riset dan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak langsung bagi lingkungan. Melalui pendanaan Hibah Kemitraan Masyarakat Kemendikti Saintek RI, tim dosen lintas disiplin dari Fakultas Farmasi dan Fakultas Teknik Universitas Pancasila meluncurkan program pendampingan biokonversi sampah organik berbasis larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot di MTsN 41 Al Azhar Asy Syarif Indonesia, Jakarta Selatan.

Program ini memfokuskan sasarannya pada penanganan sampah dapur harian di lingkungan boarding school. Dengan total 628 siswa (193 siswa asrama dan 435 siswa reguler), aktivitas sekolah menghasilkan sekitar 40 kg sampah organik harian. Melalui teknologi biokonversi tepat guna, sampah dapur tersebut tidak lagi menumpuk di TPA, melainkan diolah secara langsung sebagai media tumbuh maggot BSF yang kaya nutrisi.
Dari sudut pandang perencanaan lingkungan, Dosen Fakultas Teknik Universitas Pancasila, Dr. Irfan Ihsani, M. Sc. menegaskan pentingnya pendekatan ini. “Pengolahan sampah organik dengan BSF merupakan bentuk nyata penerapan ekonomi sirkular (circular economy) di lingkungan sekolah. Kita tidak hanya mereduksi volume limbah harian hingga 80-90%, tetapi juga mengubah bahan terbuang tersebut menjadi sumber daya baru yang bernilai ekonomis dan ekologis,” terangnya.
Hasil panen maggot tersebut kemudian diformulasikan menjadi pakan ternak dan ikan bernilai nutrasetika. Dosen Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, apt. Gumilar Adhi Nugroho, M.Si., menjelaskan potensi kandungan gizi dari maggot BSF tersebut. “Maggot BSF memiliki profil protein tinggi serta kandungan asam amino dan senyawa bioaktif yang sangat baik. Pemanfaatan maggot sebagai pakan bernilai nutrasetika tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi dasar unggas dan ikan di sekolah, tetapi juga meningkatkan imunitas serta efisiensi pakan secara alami,” paparnya.
Ketua Tim Pengusul PKM Universitas Pancasila, Dr. apt. Diah Kartika Pratami, M.Farm., menambahkan bahwa program ini dirancang terintegrasi hingga ke aspek pendidikan dan riset madrasah. “Selain menuntaskan masalah limbah dari hulu ke hilir dan mendukung predikat Sekolah Adiwiyata, fasilitas budidaya BSF ini kami dorong menjadi living lab bagi guru dan siswa. Unit ini menjadi sarana riset sains terapan, mulai dari uji formulasi media, laju biokonversi, hingga eksplorasi pakan olahan untuk diajukan pada ajang kompetisi ilmiah,” ujar Diah.
Langkah kolaboratif ini mempertegas peran Universitas Pancasila dalam menghadirkan solusi berbasis riset perguruan tinggi yang aplikatif, mendukung pembangunan berkelanjutan (SDGs), serta membangun kemandirian lingkungan di masyarakat.